“… di event sma8, [stece] kalah ama [bosa] final. ppi [bosa] kalah ama [sma7], [sma7] kalah ama [tirto] … ”
Itu salah satu status yg tertulis di FB salah satu teman. Dari status itu dapat kita analogkan tirto adalah tim yg paling bagus. Apalagi jika melihat background tim stece yg memiliki pemain2 bagus dari smp dan menjadi juara 1 selama 1 tahun terakhir di berbagai event, berarti tim tirto adalah tim yg terbagus. Karena bisa mengalahkan tim2 yg menang atas stece.
Namun pada kenyatannya tim2 seperti sma bosa, sma 7 sma tirto, merupakan tim2 yg biasa2 saja, bahkan cenderung dibawah tim stece, diatas kertas dan dari segi skill. Tapi pada kenyataannya tim stece yg pada tahun ini sangat dijagokan untuk bisa merajai setiap lomba dikalahkan oleh tim sma bosa. Tim yg pada event sebelumnya dikalahkan oleh tim sma 7.
Memang kita tidak bisa memprediksi hasil pertandingan hanya berdasar data dan fakta. Kita tidak bisa men”judgje” apakah sebuah tim lebih baik dari tim yg lain, sebelum mereka bertanding. Hanya melalui hasil dari sebuah pertandingan baru kita dapat menentukannya. Dan itu pun berlaku hanya pada saat itu. Jika pada kesempatan lain kedua tim itu bertemu lagi ,maka siapa yg lebih baik tetap belum bisa dipastikan. Apakah tim yg sebelumnya menang akan tetap menang atau malahan kalah. Semua itu tetap menjadi sebuah misteri yg hanya bisa terkuak pada akhir pertandingan.
Pelajaran yg dapat kita ambil adalah bahwa dalam sebuah pertandingan, kita tidak boleh merasa kalah terlebih dahulu. Meski hal itu diketahui oleh banyak orang, sayangnya tidak disadari oleh setiap orang. Kita cenderung sok tahu dengan mencoba menebak-nebak. Padahal –biasanya– tebakan kita sering meleset, atau bahkan melenceng jauh.
Yak, kalah sebelum bertanding, kadang sering dialami oleh tim2 yg berkelas dan berpredikat biasa. Hal ini bisa disebabkan karena mereka nyaman dengan mengkambinghitamkan perbedaan kelas agar dapat selamat dari rasa malu kekalahan. Dengan menyebut tim A atau B hebat dan kita tidak mungkin menang, kadang lebih menenangkan daripada aku takut dan malu bermain sama tim mereka –secara psikologis–
Maka timbul semacam pernyataan, “… mana mungkin menang lawan tim sekelas A, B, C atau D..mereka kan jago2 …”
Bukan masalah siapa yg lebih kuat atau siapa yg lebih lemah. Dan bukan masalah apakah kita akan menang atau kalah. Hal yg lebih penting adalah berusaha sebaik-baiknya dalam setiap apa yg kita lakukan agar tidak ada penyesalan, karena yg namanya menyesal selalu datang terakhir. Beranikah kita memilih untuk menjadi berani ? agar tidak menyesal besok..
*mengutip kata2 om mario teguh, ” fokuskan pada apa yg bisa menghebatkan anda dan amati apa yg terjadi !! ”